Sabtu, 11 Februari 2023

wedding vs MARRIAGE

Selamat datang kembali di bulan kasih sayang. Rasanya selalu seru jika menulis di bulan ini. Seperti ada saja yang ingin diungkapkan. Kali ini aku ingin membahas tentang marriage. Tenang, aku belum mau menikah kok, cuma di umurku yang sekarang ini dimana aku melihat banyak temen-temenku yang udah mau atau bahkan udah menikah, aku jadi tertarik untuk membahas hal ini. Sekaligus remind buat temen-temenku yang belum menikah supaya gak FOMO karena liat temen-temennya dilamar dan udah nikah.  

Dalam Bahasa Inggris, terdapat 2 kata yang memiliki arti pernikahan namun memiliki makna yang berbeda. Ya, wedding dan marriage. Keduanya sama-sama memiliki arti pernikahan, namun ternyata maknanya berbeda loh dan aku juga baru sadar akhir-akhir ini setelah membaca tulisan seseorang. Kata wedding lebih mengarah pada acara pernikahan sedangkan marriage lebih mengarah pada kehidupan pernikahannya itu sendiri. 

Pada tulisan yang aku baca dikatakan bahwa pada saat orang memutuskan untuk menikah terkadang orang terlalu sibuk mempersiapkan wedding mereka supaya berjalan dengan lancar namun mereka lupa mempersiapkan marriage yang akan mereka lalui setelah itu. Persiapan wedding memang melelahkan, banyak hal yang diurus dan tentu saja kita ingin membuat acara pernikahan kita sebagus dan seindah mungkin karena itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Bahkan kita bisa mempersiapkan wedding itu sendiri selama 1 bahkan hingga 2 tahun sebelumnya.  Tidak ada yang salah dengan itu dan itu hal yang sah dan wajar-wajar saja. Tapi yang menjadi concern adalah apakah kita juga mempersiapkan marriage kita sebaik kita mempersiapkan wedding kita? Acara pernikahan yang hanya berlangsung selama 1 hari, kita mempersiapkannya selama 1-2 tahun, bagaimana dengan kehidupan pernikahan yang seumur hidup? Berapa lama kita mempersiapkan diri kita dan pasangan kita untuk kehidupan pernikahan itu sendiri? 

Mungkin kita jadi bertanya-tanya lalu bagaimana caranya untuk mempersiapkan marriage itu sendiri? Aku pun juga masih mencari tahu, tapi menurutku salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengenal pasangan kita. Mengenal pribadi yang ada di dalam pasangan kita. Terbuka dan komunikasikan ke pasangan kita apa yang menjadi ekspektasi kita dan ekspektasinya dan segala sesuatu yang mungkin bisa menimbulkan konflik. Kenali cara pikirnya. Dengan mengenal kita bisa tahu bagaimana harus bersikap dan bagaimana harus menghadapinya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kalau ternyata pasangan kita berubah setelah menikah? Menurutku tidak ada orang yang berubah secepat itu. Dia bukan berubah namun dia hanya menjadi dirinya sendiri. Bisa saja pada sebelum menikah dia tidak menjadi dirinya sendiri. Untuk itu kita perlu benar-benar mengenal pasangan kita sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menikah. Bukan berarti kita selalu mencari seseorang yang sempurna karena kita tidak akan menemukannya, namun bagaimana kita bisa menerima dan seberapa bisa mentolerir ketidaksempurnaan itu. Lalu apakah setelah kita merasa cukup mengenalnya kita berhenti dan memutuskan untuk menikah?

Kehidupan pernikahan adalah perjalanan mengenal seumur hidup. Mengenal tidak cukup hanya setahun atau dua tahun, atau bahkan 10 tahun. Jika kita menikah, kita belajar mengenalinya setiap hari. Dan oleh karena itu, pernikahan juga adalah perjalanan menerima dan memaafkan seumur hidup. Semakin kita mengenalnya setiap hari, semakin kita perlu belajar untuk menerimanya. Menerima setiap hal baik dan hal yang kurang kita suka, ya karena tidak ada jalan mundur. Tapi tenang pernikahan tidak semenyeramkan itu. Ketika kita bertemu dengan orang yang tepat, kita akan menjalani kehidupan pernikahan itu dengan bahagia dan bahkan lebih bahagia jika dibandingkan waktu kita masih sendiri. So, prepare your marriage as well as your wedding and I hope we all have a happy marriage๐Ÿ’•

Sabtu, 20 Agustus 2022

LOVE language

Love language atau bahasa cinta. Dua kata itu belakangan ini lagi marak diperbincangkan. Tapi sebenernya apasih love language itu. Mungkin kita lihat dari struktur katanya terlebih dahulu. Bahasa cinta terdiri dari dua kata yaitu bahasa dan cinta. Bahasa merupakan sebuah alat yang digunakan untuk berkomunikasi. Kita bisa memahami apa yang dimaksud orang lain kalau kita mengerti bahasa yang digunakan orang tersebut begitupun sebaliknya orang dapat memahami apa yang kita ucapkan kalau orang tersebut tahu bahasa yang kita gunakan. Dengan begitu terjalinlah sebuah komunikasi. Jika kita tidak saling mengerti bahasa yang digunakan komunikasi akan menjadi sulit. Cinta, seperti yang kita tau cinta merupakan sebuah kasih sayang dan pengorbanan. Nah kalau disatukan, bahasa cinta dapat diartikan sebagai cara atau alat yang digunakan untuk menyalurkan cinta atau kasih sayang kepada orang lain. 

Menurut Gary Chapman terdapat 5 cara untuk menyatakan dan merasakan cinta yaitu word of affirmation, quality time, giving gifts, act of service, dan physical touch. Kita akan bahasa secara singkat tentang kelima bahasa cinta tersebut. 

1. Word of affirmation. Orang dengan bahasa cinta ini akan senang dan merasa disayang jika orang lain dapat memberikan dia afirmasi dalam bentuk kata-kata. Contoh pemberian kata-kata semangat, memuji dengan kata-kata. Begitupun dengan dirinya sendiri, orang dengan bahasa cinta word of affirmation cenderung memberikan atau membagikan kasih sayangnya lewat kata-kata. 

2. Quality time. Orang dengan bahasa cinta quality time akan merasa sangat senang jika dia dapat menghabiskan waktu bersama orang yang dia sayang. Mungkin bahasa cinta yang ini sering kita temui. 

3. Giving gifts. Bahasa cinta yang ini bisa berarti memberi dan diberi. Orang yang memiliki bahasa cinta ini pada urutan pertama akan sangat senang jika dia diberi sesuatu dan juga sebaliknya. Dia juga senang memberi sesuatu kepada orang lain. Baginya memberi sesuatu kepada orang lain adalah tanda sayangnya kepada orang tersebut. 

4. Act of service. Bahasa cinta ini bagiku sendiri agak sulit untuk ditafsirkan. Tapi menurutku orang yang dengan bahasa cinta act of service akan merasa disayang dan senang jika ada orang yang membantunya melakukan suatu hal atau dia akan senang jika ada orang yang mau melakukan usaha lebih untuknya. Begitupun sebaliknya, orang dengan bahasa cinta act of service juga akan melakukan usaha yang extra untuk orang lain untuk menunjukkan kasih sayangnya. 

5. Physical touch. Ya jangan berpikiran kotor. Physical touch disini bukan berarti itu. Orang dengan bahasa cinta physical touch akan merasa senang ketika dia bisa dekat dengan orang yang dia sayang. Dia merasa disayang jika orang yang dia sayang memeluk dia saat dia sedang membutuhkannya. 

Nah setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda-beda, umumnya sih mempunyai semua bahasa cinta di atas namun porsinya yang berbeda-beda. Untuk itu kita perlu memahami bahasa cinta yang dimiliki oleh setiap orang sehingga kita dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada orang tersebut dan orang tersebut dapat merasakannya juga. Sama seperti bahasa, kalau kita tidak memahami bahasa lawan bicara kita, kita akan kesulitan untuk berkomunikasi. Percuma juga ya kalau kita udah kasih usaha extra untuk nunjukkin kasih sayang ke orang tapi orang tersebut gak merasa disayang karena ternyata gak nyampe apa yang dikasih. Jadi lebih baik kita memahami dulu apa bahasa cinta orang tersebut sehingga kasih sayang yang kita berikan juga dapat tepat sasaran. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cara kita menyampaikan kasih sayang tapi jika kasih sayang diberikan dengan cara yang tepat dampaknya pun akan lebih besar :) keep spreading love <3

Jumat, 11 Februari 2022

the art of LETTING GO

Selamat datang bulan Februari. Bulan kasih sayang kalau kata orang. Kayaknya gak afdol kalau gak cerita tentang kasih sayang di bulan Februari ini. Kali ini aku mau membahas tentang letting go. Loh kok malah sedih bukannya bahagia? Letting go gak selalu sedih kok, melepaskan bisa jadi membuat kita lebih bahagia. 

Aku mau membahas ini dengan satu kalimat "The tighter we hold, the more it hurts". Kalimat ini bisa diilustrasikan dengan ketika kita memegang sesuatu terlalu erat, bukan hanya tangan kita saja yang sakit tapi apa yang kita genggam juga akan rusak. Ketika kita memiliki sesuatu kita cenderung menggenggam itu terlalu erat. Bahkan di lagu Balonku, kita diajarkan untuk menggenggam erat-erat balon yang tersisa supaya tidak lepas. Namun pernah gak sih kita sadar, semakin lama kita menggenggam akan semakin sakit? 

Ketika kita mulai membuka diri kepada orang lain, ketika kita mulai menaruh hati kepada orang lain, dan terutama ketika kita merasa orang tersebut adalah milik kita, kita mulai menaruh ekspektasi kepada orang tersebut. Kita mulai berharap sesuatu terjadi seperti apa yang kita inginkan. Kita mulai menggenggam ekspektasi kepadanya. Namun bagaimana kalau ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Apa yang terjadi jika ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan? Sakit. Kecewa. Padahal siapa yang membuat rasa sakit dan kecewa itu? Apakah orang yang kita "pasang" ekspektasi tersebut? Apakah orang tersebut salah jika ternyata dia tidak melakukan sesuatu seperti apa yang kita harapkan? Tidak. Yang membuat rasa sakit dan kecewa itu adalah genggaman akan ekspektasi itu sendiri. Maka cobalah untuk melepaskan ekspektasi itu. Ketika kita mencoba untuk melepaskan perlahan ekspektasi itu, rasa sakit dan kecewa pun akan perlahan berkurang. 

Belajar melepaskan bukan merupakan hal yang mudah. Apalagi melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milik kita. Melepaskan bukan berarti menyerah pada keadaan. Melepaskan berarti memberi kebebasan baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Kebebasan untuk berpikir, kebebasan untuk merasakan. Dengan belajar melepaskan, hidup akan menjadi jauh lebih damai dan tenang. And that's the art of letting go for me. Happy Month of Love ๐Ÿ˜Š 

Minggu, 16 Januari 2022

two sides of MEMORIES

Setiap orang pasti memiliki kenangan. Ada kenangan baik ada kenangan buruk. Terkadang kita hanya ingin mengingat kenangan baik saja dan melupakan kenangan buruk namun rupanya hal tersebut sulit dilakukan. Aku sebagai orang yang memiliki daya ingat yang rendah, cukup terbantu dengan itu karena aku bisa melupakan beberapa part yang buruk dari hidupku. Tapi tentu saja aju aku juga melupakan beberapa part baik.

Namun ketika kejadian itu benar-benar membekas, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Entah betapa keras aku mencoba untuk melupakannya, tidak akan pernah bisa. Dan ketika ingatan itu kembali lagi, rasa sakitnya masih sama. Aku masih bisa merasakan sakit yang dulu pernah aku rasakan. Mungkin itu yang dinamakan kepahitan. Rasa sakit terbesar adalah rasa sakit yang disebabkan bukan oleh orang yang jauh tapi oleh orang yang dekat. Untuk itu, aku takut jika aku harus membuka diri kepada orang lain. Aku takut orang lain masuk ke dalam hidupku. Aku takut jika aku harus merasakan rasa sakit itu. Bahkan ketika dulu aku memiliki pasangan aku tidak benar-benar membiarkan dia masuk ke dalam hidupku. Aku membatasi diri. Sebisa mungkin orang tidak mengenalku. Biar aku yang mengenalnya. Tembok itu akan terus ada entah sampai kapan. Namun demikian pula dengan kejadian baik. Aku masih bisa merasakan kebahagiaan atas setiap kejadian baik yang masih terekam otakku. Dan ya, masih kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan yang dulu pernah aku rasakan. Hidup itu memang adil ya. Ketika kita bisa merasakan sakit kita juga bisa merasakan bahagia. Aku sebisa mungkin untuk mengulang memori baik itu. Namun ada kalanya yang muncul bukanlah memori baik namun malah sebaliknya.

Aku pernah bertanya pada diriku sendiri apa yang membuatku bertahan. Jawaban yang kutemukan adalah Tuhan. Mungkin bagi sebagian orang jawaban itu terlalu klise. Namun memang begitu kenyataannya. Tuhan yang membuatku bertahan sampai sekarang. Mungkin jika aku tidak mengenal Tuhan aku tidak akan ada hingga sekarang. Dan aku bersyukur aku dikelilingi oleh orang-orang baik. Dikelilingi oleh orang-orang yang meskipun tidak tahu akan ceritaku namun bisa menjadi tempat untuk bersandar ketika aku lelah. And for that, I want to say thank you. Terima kasih Tuhan, terima kasih diriku, dan terima kasih kamu :)

Minggu, 31 Oktober 2021

about PRIVILEGE

Privilege. Kata-kata ini sedang banyak dipakai akhir-akhir ini. Privilege itu apa? Privilege itu sepengetahuanku adalah hak istimewa. Maksudnya gimana? Maksudnya punya hak khusus yang mungkin gak dimiliki oleh orang lain. Misalnya anak presiden, otomatis dia punya priviliege yang gak dimiliki oleh orang lain. Namun privilege ada banyak macemnya dan gak melulu tentang jabatan ataupun harta. Contohnya punya circle teman yang baik juga merupakan privilege, punya keluarga yang supportive juga termasuk. Nah kali ini aku mau membahas terkait privilege ini.

Beberapa dari kita mungkin gak menyadari akan privilege yang dimiliki. Terkadang kita merasa apa yang kita hasilkan murni merupakan hasil kerja keras kita sendiri. Dulu aku juga seperti itu. Aku merasa apa yang aku dapatkan ya atas hasil kerja kerasku. Namun ternyata aku sadar bahwa aku punya privilege yang bisa dibilang aku naif banget kalau aku bilang itu murni hasil kerja kerasku. Contoh ketika aku dapat nilai bagus, apa karena aku rajin belajar? Ya tentu itu salah satu faktor namun itu bukan satu-satunya. Bisa dibilang aku punya latar pendidikan yang cukup bagus, aku disekolahkan di tempat yang bagus dari aku kecil. Itu semua merupakan privilege yang mungkin gak dimiliki oleh orang lain. Kadang kita melihat satu hal hanya dari satu sudut pandang saja padahal sebenarnya ada banyak hal yang menyebabkan itu dapat terjadi.

Nah, tapi ketika privilege yang kita miliki tidak didukung dengan usaha, privilege itu pun akan sia-sia. Seperti contoh di atas, ketika aku tidak belajar apa aku tetap bisa mendapat nilai bagus? Tentu saja tidak. Maka dari itu, kita perlu menyadari privilege apa yang kita punya dan kita gunakan privilege itu sebaik mungkin. Ketika kita berhasil, kita pun perlu berterima kasih terhadap privilege yang kita punya itu. Jangan dilupakan dan hanya membanggakan usaha kita saja.

Aku pernah lihat suatu podcast dimana bintang tamunya adalah salah seorang anak presiden yang kini menjadi seorang pengusaha. Disitu dia berkata apa yang dia punya saat ini salah satunya adalah karena ‘title’ dia sebagai anak presiden. Dia tidak perlu mengeluarkan usaha yang lebih agar nama dia dikenal banyak orang dan dia juga tidak punya ketakutan untuk gagal karena ketika dia gagal membuat sesuatu dia masih bisa membuat sesuatu yang lain lagi. Aku salut dengan ucapannya dan dengan kerendahan hatinya. Dia tidak menganggap apa yang dia miliki sekarang semata-mata hanya karena usahanya dia sendiri. Dan seperti itulah seharusnya kita bertindak. Aku pun juga masih belajar dan akan terus belajar. So for the last, semangat untuk segala hal yang sedang kita usahakan dan jangan lupa tetap berdoa karena manusia berencana namun Tuhan yang berkehendak. Happy Sunday! ๐Ÿ˜Š

 

Sabtu, 20 Februari 2021

What's your PASSION ?

Hal paling sulit yang harus dilakukan saat mau menulis adalah menentukan kalimat pertama apa yang akan ditulis. Like what I feel right now, I know what the topic that I want to share but I just don’t know how to start it. Oke hari ini aku akan membahas soal passion. Hal ini bermula dari podcast yang aku dengar. Hari ini, setengah hariku kuhabiskan dengan mendengar podcast orang-orang. Mulai dari hal yang lucu sampai ke hal yang berat yang membuatku berpikir “bener juga ya”. Berbicara soal passion, menurut kalian apa sih passion itu? Silahkan jawab dalam hati kalian masing-masing. Bagiku passion adalah sesuatu hal yang kita senangi dan kita merasa bisa/mahir melakukan itu. Nah itu yang mau aku bahas. Kita perdalam satu persatu ya.

Pertama, seperti kataku di atas, bagiku passion adalah hal yang kita senangi. Apa sih maksud dari kalimat itu? Hal yang kita senangi adalah hal yang ketika kita lakukan, meskipun dengan usaha yang keras dan melelahkan kita tidak terganggu dengan itu dan kita merasa fine aja. Kita tidak merasa terbeban dengan itu. Contohnya adalah aku suka menulis. Aku suka berbagi perspektif dengan orang, aku suka menceritakan apa yang aku rasakan dan apa yang aku alami. Ketika aku melakukannya aku tidak terbebani sama sekali. Aku tidak merasa waktuku direnggut ketika aku harus menulis dan menceritakan apa yang kualami. I’m just fine with that. Tapi apakah passion-ku adalah menulis? I can’t say that. Kenapa? Jawabannya ada di kalimat berikutnya.

Passion juga merupakan hal yang kita merasa bisa/mahir dengan hal itu. Ya merasa bisa/mahir. Tentu saja kita bisa melakukan segala sesuatu tidak secara instan. Seperti kata orang, mie instan saja tetap perlu dimasak dan butuh proses agar bisa dinikmatinya kan? Ya, untuk bisa/mahir melakukan sesuatu kita butuh proses. Memang terkadang kita mendapatkan suatu privilege atau mungkin talenta yang Tuhan kasih ke kita. Namun jika talenta itu tidak kita kembangkan, tentu saja itu tidak akan berkembang dengan sendirinya. Pointnya adalah kita perlu berproses. Nah, itu yang membuatku bisa bilang menulis belum menjadi passion-ku. Karena apa? Karena aku merasa aku belum bisa/mahir menulis dengan baik. Aku tidak melatihnya, aku tidak disiplin dan tidak mencoba untuk belajar bagaimana cara untuk menulis yang baik. Aku suka namun aku tidak mengusahakannya.

Banyak orang, saat ini terutama, merasa dia passionate di suatu bidang hanya karena dia suka sama hal itu. Tapi sebenarnya dia tidak benar-benar belajar tentang hal tersebut. Dia hanya merasa “oh kayaknya aku suka ini deh, coba deh” tapi tidak mencoba untuk mendalami dan berusaha mencari tahu lebih banyak tentang itu. Jadi seakan-akan dia hanya mencoba dan kalau berhasil dia akan bilang “bener kan ini passion-ku”, tapi ketika tidak berhasil dia akan bilang “kayaknya bukan deh, ini bukan passion-ku”. Dan menurutku, lagi-lagi menurutku ya karena aku tahu kita semua memiliki perspektif yang berbeda-beda dan aku tidak akan memaksakan perspektifku, itu bukanlah sebuah passion. Kamu bisa bilang “ini loh passion-ku” ketika kamu memang tahu kamu suka hal itu dan memang kamu bisa melakukannya dengan baik. Ketika kamu belum bisa melakukannya dengan baik, bagiku it’s not your passion. Passion bukanlah hal yang dicoba-coba, berhasil atau enggak ya with the lack of knowledge. No. Bukan itu. Passion adalah hal yang memang kamu pelajarin dengan sungguh-sungguh because you feel it and because you love it.

Lalu akan muncul pertanyaan, “Tapi untuk tahu kita bisa atau enggak kan kita harus mencobanya?” Benar. Kita harus mencoba tapi bukan mencoba dengan pengetahuan yang terbatas. Balik seperti yang aku bilang semua butuh proses. Kalau kita mau mencoba sesuatu tapi kita malas untuk mempelajarinya terlebih dahulu ya sama saja. Bagiku itu hanya mencari keberuntungan. Berhasil atau enggak. Kalo berhasil berarti hoki kalo enggak berarti enggak hoki. As simple as that. Tapi bukan itu yang seharusnya terjadi. Ketika kamu merasa passionate akan suatu hal, ya kamu harus mau belajar. Disiplin dalam belajar, mau mencari tahu, mau berusaha untuk lebih memahaminya supaya dari yang awalnya kamu enggak bisa kamu jadi bisa dan kamu jadi mahir dan kamu suka dengan itu. Get the difference right? Mungkin aku akan kasih sebuah contoh supaya lebih paham apa yang kumaksud.

Saat ini, entah kenapa banyak banget orang yang main saham. Disini aku pakai kata ‘main’ karena mereka memang sebagai trader not an investor. Nah belakangan ini banyak orang-orang yang main saham dan aku enggak tahu kenapa sekarang saham jadi booming banget. Analisaku karena pandemi dan orang susah bekerja, makanya orang beralih ke saham. Dan juga orang-orang mungkin melihat kayaknya kalo di saham bisa cuan banyak. Akhirnya mereka mencoba tanpa belajar dan mendalaminya. Pertama kali coba wah profit, lanjut lagi, profit lagi, lanjut lagi dan sampai orang itu merasa ‘wah kayaknya passion-ku di saham deh, udah deh aku jadi fulltime trader aja’. Padahal sebenernya orang itu profit karena memang pasarnya lagi bagus saja. Tapi disclaimer dulu, ini bukan berarti aku bilang semua orang yang baru main saham akhir-akhir ini seperti ini ya. Aku di awal sudah menekankan yang kumaksud adalah mereka yang lack of knowledge. Jadi kalau memang kalian bener-bener mendalaminya ya sudah kalian bukan termasuk orang yang kubicarakan disini. Lanjut lagi, orang ini merasa passion dia di saham karena dia untung terus, padahal dia enggak pernah benar-benar memahami soal itu. Karena dia merasa passion dia disitu, akhirnya dia jadi fulltime trader, dan ketika pasar enggak bagus apa yang terjadi? Dia kehilangan segalanya. Dia kehilangan karena dia memang tidak memiliki pengetahuan yang cukup di bidang itu. Dia merasa passion hanya karena dia suka dengan hal itu tanpa benar-benar memahami apakah dia beneran bisa atau enggak. Nah jadi itu passion yang kumaksud. Kamu bisa bilang itu passion ketika kamu suka dan kamu bisa melakukannya dengan baik. By the way, contoh di atas bukan aku lagi menceritakan seseorang ya, itu purely aku memberikan contoh.

Sebenarnya hal yang sama juga terjadi pada diriku. Aku pernah berada di posisi dimana aku pikir kayaknya ini passion-ku deh tapi aku enggak pernah mengusahakannya atau berjuang untuk belajar lebih keras tentang itu. Jadi bagiku terlalu naif kalau aku bilang it’s my passion. Makanya ketika aku menulis ini aku merasa tertampar kanan dan kiri karena kayaknya I’m that person too lol. So, that’s my opinion about passion. Jarang-jarang menulis panjang lagi tapi tiba-tiba ide datang begitu saja, sayang jika dilewatkan. Masih banyak hal yang ingin aku sharing-kan tapi mungkin aku akan sharing di post berikutnya karena ini sudah terlalu panjang haha. Aku harap dengan sharing ini kita bisa sama-sama belajar untuk lebih menemukan apa yang kita suka dan serius dalam mengusahakannya supaya kita bisa bilang dengan bangga “Ya, this is my passion”.


Sabtu, 13 Februari 2021

The Art of GIVING

Seperti biasa, bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Sebenarnya kasih sayang bukan hanya di bulan Februari aja sih, tapi bulan Februari identik dengan itu. 14 Februari merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh beberapa orang, namun ada juga orang yang sangat menghindari tanggal itu karena suatu dan lain hal. Hari ini tepat 1 hari sebelum tanggal 14 Februari. Namun bagiku sendiri, tanggal itu tidak terlalu berarti spesial bagiku. Bagiku tanggal 14 Februari sama dengan tanggal-tanggal lainnya. But today I want to talk about the art of giving karena 14 Februari merupakan hari dimana banyak orang memberi dan diberi. So let's talk about it. 

Sebenernya bagi kalian, apa sih arti memberi itu? Apakah memberi hanya sekedar membelikan orang lain barang dan memberikannya? Atau sebenernya ada arti yang lebih dari memberi itu sendiri? 
I will talk with my own perspective. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar karena setiap orang pasti punya pandangannya masing-masing berdasarkan pengalamannya. 

Bagiku memberi lebih dari sekedar membelikan lalu memberikan. Jauh di dalam hati orang yang memberi ada suatu hal yang ingin ia dapatkan. Ya, ketika aku memberikan sesuatu kepada orang lain, ada harapan. Bukan berarti aku mengharapkan imbalan. Bukan, bukan itu maksudnya. Maksudku ketika aku memberikan sesuatu kepada orang lain, meskipun tanpa maksud apapun, tanpa ada event apapun, kadang aku hanya ingin memberinya karena aku hanya ingin melihat mereka bahagia. Kenapa gitu? Karena ketika aku diberi sesuatu oleh orang lain aku merasa bahagia, jadi aku ingin orang lain merasakannya juga. Akan sangat senang bagiku ketika aku melihat orang yang kuberi bahagia ketika menerimanya. Entah kenapa saat itu juga aku merasa diriku bahagia. I'm happy for making people happy. 

Memberi bukan melulu harus barang atau sesuatu yang mahal. Giving is not about the price, is about sincerity. Memberikan waktumu untuk ada bagi orang yang sedang membutuhkanmu, memberikan tenagamu untuk orang yang sedang kesulitan juga merupakan bagian dari memberi. Selagi kamu ikhlas dan tulus, memberi adalah hal yang paling membahagiakan. 

Lalu bagaimana bisa membedakan memberi yang tulus atau tidak? Menurutku, pemberian yang tulus itu ketika kamu tidak pernah memikirikan apakah aku akan rugi dengan memberikan ini? Apakah aku akan mendapatkan hal yang sama dengan apa yang kuberi? Ketika kamu memberi dengan tulus ada perasaan bahagia ketika kamu bisa memberikannya, bahagia yang benar-benar bahagia. Trust me, ketika kamu merasakan hal itu kamu telah memberinya dengan tulus. Perasaan itu adalah perasaan yang paling membahagiakan.

Aku sendiri baru mengerti arti memberi yang sesungguhnya ketika aku sudah kerja. Telat memang, but that means I'm growing up. It's okay karena setiap orang punya waktunya masing-masing bukan? Pada waktu aku kuliah aku mulai sering memberi. Memberi dan diberi lebih tepatnya. Pada saat mau ujian semester, pada saat memasuki semester baru, pada saat menyelesaikan suatu tugas, pada saat perkenalan dengan adik kelas, pada saat perpisahan. Banyak moment dimana memberi adalah sesuatu yang menjadi tradisi. Namun saat itu aku hanya merasa itu hanyalah tradisi belaka. Tidak ada perasaan apapun saat aku memberi. Aku memberi karena ya memang sepertinya aku harus memberi. But then, hal itu berubah ketika aku bekerja. Aku tidak tau juga apa yang membuatku berubah. Tapi saat ini ketika aku memberi, ada perasaan lain. Aku merasa bahagia even for the little things. Seeing people happy because of me is the best feeling ever. 

Jadi itulah arti memberi bagiku. And I'm happy now to know what's the meaning of the art of giving. So, what's yours? 

Happy Valentine, peeps! :)