Rabu, 04 November 2020

AUDITOR's story

Being an internal auditor is never been easy for me. Meskipun udah 2.5 tahun menjadi auditor, hal itu masih sangat terasa sulit bagiku. Mungkin karena memang menjadi auditor bukan merupakan hal yang pernah terpikirkan olehku. Dari bangku sekolah hingga kuliah pun aku gak pernah berpikiran untuk menjadi auditor. Namun Tuhan membawaku kesini. 

Satu tahun pertama menjadi seorang internal auditor sangatlah sulit. Saat itu aku berpikir mungkin aku yang belum terbiasa. Aku berpikir mungkin aku butuh 1 tahun lagi untuk terbiasa. Namun ternyata aku salah. It's never been easy. Dua setengah tahun aku lewati dan aku masih belum bisa menemukan tempatku. Aku berusaha untuk menerima, berusaha untuk menikmati namun selalu gagal. 

Menjadi seorang internal auditor harus memiliki mental yang kuat. Kenapa? Karena tentu saja auditor tidak akan disukai oleh auditee nya. Manusiawi. Jika aku menjadi auditee yang sudah bekerja keras namun malah diberi komentar oleh auditor bukannya pujian tentu kesal dan sakit hati. Itulah kenapa pekerjaan ini tidak pernah menjadi mudah. Dibenci dan di-tidaksuka-in oleh auditee menjadi makanan setiap kali melakukan pemeriksaan. Namun aku tetap belum terbiasa dengan itu. Aku sedih ketika apa yang aku lakukan malah membuat orang lain tidak bahagia. Keinginanku adalah bekerja yang membawa sukacita untuk orang lain, namun kenyataannya malah sebaliknya. Itu yang membuatku selalu mengeluh di setiap penugasan yang kulalui. Bukan hanya memiliki mental yang kuat, seorang auditor pun juga harus memiliki fisik yang kuat. Tidak diragukan lagi, lembur merupakan hal wajar bagi seorang auditor. Kalau belum lembur belum menjadi auditor sepertinya. Hal ini yang juga membuatku mengeluh setiap saat karena aku merasa kehidupan pribadiku dirampas. Namun semakin lama, mungkin memang frekuensi lembur akan semakin berkurang (syarat dan ketentuan berlaku). 

Akan tetapi di balik ini semua aku menemukan suatu hal yang luar biasa dengan menjadinya aku sebagai internal auditor. Aku menjadi diriku yang sekarang tak lain karena pekerjaanku sebagai auditor. Perubahan yang paling kurasakan adalah tentang pengharapan kepada Tuhan. Mungkin dulu sebelum aku menjadi auditor, aku merasa aku bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Dan apa yang kudapat ya itu karena kemampuanku. Namun seiring berjalannya waktu dengan menjadi auditor, aku sadar aku gak pernah bisa berjalan sendiri dan semua hal yang kudapat dan kuselesaikan itu semua bukan karena kemampuanku tapi karena Tuhan yang memampukan. Selama menjadi auditor aku menaruh harapanku pada Tuhan. Pernah suatu waktu aku merasa aku gak akan bisa menjalani dan menyelesaikan tugasku. Tentu saja aku stress saat itu. Aku bingung bagaimana caranya agar aku bisa menyelesaikan bahkan dengan lembur pun sepertinya juga gak mungkin. Saat itu aku akhirnya memutuskan berhenti bekerja sejenak dan berdoa. Di situ aku menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Setelah itu aku merasa tenang. Tentu pekerjaanku tidak selesai begitu saja namun aku merasa tenang karena aku tahu dengan siapa aku berjalan. Ketika aku berjalan sendiri aku tahu aku tidak akan bisa, namun ketika aku berjalan bersama Tuhan, aku percaya Tuhan yang akan memungkinkan semuanya terjadi. Dan ya, akhirnya pekerjaanku selesai dan kondisiku juga masih baik. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali Tuhan memampukanku menjalani setiap penugasan yang aku lewati. 

Aku sadar, dengan menjadi auditor aku menemukan pengharapan yang mungkin tidak aku temukan jika aku tidak menjadi auditor atau mungkin aku masih menjadi orang yang sombong dengan kemampuanku sendiri. Meskipun masih banyak keluhan di setiap yang kulakukan namun aku memiliki kekuatan untuk menjalaninya. Mengapa masih mengeluh ketika aku sudah memiliki pengharapan? Jawaban sederhana karena aku masih manusia biasa. Pengharapan bukan berarti aku tidak perlu melakukan apa-apa dan semuanya akan langsung terjadi. Aku masih harus bekerja lembur, masih tidak disuka oleh orang yang kuperiksa. Aku masih mengalami itu semua jadi mungkin itu alasan aku masih mengeluh. Namun aku percaya Tuhan yang memampukan aku untuk melewati itu semua. Cerita ini tidak pernah tersampaikan sampai akhirnya aku sadar bahwa kita tidak akan pernah tahu rencana Tuhan untuk hidup kita, namun yang perlu kita lakukan adalah meyakini bahwa Tuhan punya rencana yang luar biasa untuk kita dan kita perlu menjalaninya dengan sebaik-baiknya. And for that, I'm thankful for being an internal auditor. 

Ketika segala sesuatu terlihat tidak mungkin, Tuhan yang akan memungkinkan! 
Have a good day! God bless :)