Hidup di dalam dunia yang penuh sandiwara. Ya itulah yang kurasakan.
Pikiranku tertuju pada masa-masa yang lalu dan aku sadar bahwa aku sudah jatuh terlalu dalam.
Bagaimana menjadi putih ketika dunia ini hitam? Pertanyaan yang klasik.
Ketika mereka mulai bermain sandiwara aku hanya bisa diam dan mengikut. Tidak bisa berkata tidak bisa mengelak.
Aku terjebak dalam dinding-dinding ketakutan. Aku terperangkap oleh ketakutanku sendiri.
Ketika aku berbicara orang menentangku. Mereka menertawakanku. Mereka menolakku.
Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku hanya bisa berbicara di dalam hati tanpa seorangpun yang mendengar,
Berlagak seolah aku menerima segalanya. Seolah aku ikut masuk kedalamnya. Dan memang ternyata aku sudah masuk ke dalam sandiwara itu.
Sekarang aku ingin kembali pada masa-masa itu.
Aku ingin mengubah cerita lama yang pernah aku buat dulu.
Tapi semuanya itu hanyalah harapan kosong. Ya, penyesalan memang selalu terjadi di belakang. Itulah hidup.
Yang bisa aku lakukan sekarang adalah berjalan menembus dinding ketakutan itu.
Mengambil setiap risiko dari dari cerita yang lalu.
Keluar dari tempurung yang selama ini mengurungku.
Berjalan melewati garis merah yang pernah kubuat.
Menyambung cerita lama dengan kisah yang baru.
Dan sekarang aku pun tau, diam tidak selalu berarti emas.
Sebuah blog sederhana yang dijadakan tempat untuk mencurahkan isi hati seorang siswi yang kini sudah beranjak dewasa dan sedang mengejar mimpinya. Be a Dreamer and wake up!
Jumat, 29 Mei 2015
Kamis, 07 Mei 2015
Lukisan Hati
Mata.
Mata adalah kamera terindah yang diciptakan oleh Sang Pemberi Kehidupan.
Kamera yang merekam setiap detik, setiap jam, setiap hari, dan setiap saat dalam hidup.
Kamera yang menyajikan sebuah kebenaran.
Kamera yang tak kan pernah berbohong.
Kamera yang tidak bisa digantikan dengan apapaun.
Mata menjadikan manusia domba.
Mata pula yang menjadikan manusia serigala.
Mata menumbuhkan cinta.
Mata pula yang menumbuhkan benci.
Mata membawa keindahan.
Mata pula yang membawa kepedihan.
Mata menumpahkan kebahagian.
Mata pula yang menumpakan air mata.
Dan ketika mata tertutup.
Tidak akan ada lagi serigala.
Tidak akan ada lagi benci.
Tidak akan ada lagi kepedihan.
Tidak akan ada lagi air mata.
Mata adalah kamera terindah yang diciptakan oleh Sang Pemberi Kehidupan.
Kamera yang merekam setiap detik, setiap jam, setiap hari, dan setiap saat dalam hidup.
Kamera yang menyajikan sebuah kebenaran.
Kamera yang tak kan pernah berbohong.
Kamera yang tidak bisa digantikan dengan apapaun.
Mata menjadikan manusia domba.
Mata pula yang menjadikan manusia serigala.
Mata menumbuhkan cinta.
Mata pula yang menumbuhkan benci.
Mata membawa keindahan.
Mata pula yang membawa kepedihan.
Mata menumpahkan kebahagian.
Mata pula yang menumpakan air mata.
Dan ketika mata tertutup.
Tidak akan ada lagi serigala.
Tidak akan ada lagi benci.
Tidak akan ada lagi kepedihan.
Tidak akan ada lagi air mata.
Yang ada hanyalah damai.
Malang, 7 Mei 2015
Langganan:
Postingan (Atom)